
Gue bedah film Pesta Babi dari sudut pandang kontra ya
Bro, film ini emang lagi bikin ribut. Tapi menurut gue, ini lebih cocok disebut propaganda yang dibungkus rapi jadi "dokumenter investigatif". Judulnya aja udah provokatif banget, pake ritual Pesta Babi buat nge-frame proyek pembangunan nasional kayak "kolonialisme jaman now". Konyol.
Intinya film ini ngikutin cerita suku-suku di Papua Selatan (Marind, Awyu, Muyu dll) yang tanahnya kena imbas PSN Food Estate sama perkebunan sawit/tebu. Mereka nunjukin hutan sagu yang ditebang, aparat dateng, trus narasinya "ini perampasan tanah adat".
Tapi ini cuma satu sisi doang bro. Hampir gak ada suara dari pemerintah, dari warga lokal yang pro proyek ini karena butuh kerjaan, jalan, listrik, atau sekolah. Kayak sengaja dihindarin biar narasinya tetep hitam putih: negara + perusahaan jahat, adat suci.
Kelemahan gede:
- Bias banget. Ini bukan dokumenter, ini esai visual aktivis. Dandhy Laksono kan emang spesialis bikin film kritis model gini. Tekniknya klasik: drone hutan hijau vs gundul, muka warga sedih, musik dramatis. Pure emotional manipulation.
- Framing "kolonialisme" itu murahan. Sebenarnya proyek Food Estate ini bagus loh, bisa banget ngurangin ketergantungan impor beras, gula, sama bioenergi. Kita negara besar, tiap tahun impor makanan gede banget â ini langkah buat swasembada pangan nasional supaya gak gantungin luar negeri terus. Tapi minusnya jelas: ga libatkan warga lokal dengan bener. Harusnya dari awal diajak bicara, dikasih bagian saham, pelatihan kerja, atau prioritas rekrutmen. Bukan cuma dateng aparat trus tanah langsung dipakai. Ini yang bikin konflik.
- Masalah cover & wajah tanpa izin: Ini yang paling parah bro. Mama Yasinta Moiwend (tokoh utama yang mukanya gede di poster) sekarang teriak bilang wajah dan suaranya dipake tanpa izin resmi. Dia cuma diajak LBH bolak-balik, capek doang, eh tiba-tiba jadi bintang film. Ini eksploitasi nama masyarakat adat. Katanya mau bela mereka, tapi malah manfaatin muka tanpa persetujuan. Etika produksi mana?
Agenda tersembunyi keliatan. Banyak yang curiga ini bagian dari narasi yang pengen bikin Papua makin terpisah. Daripada bantu majuin daerah dengan cara yang adil, malah bikin orang makin anti-pembangunan.
Efeknya bahaya juga. Film beginian cuma bikin keterbelahan makin dalam. Padahal banyak orang Papua sendiri yang pengen maju dan dapat manfaat investasi, bukan cuma diam di hutan.
Kesimpulan gue:
Ini film propaganda yang cakep secara sinematik, tapi lemah substansinya dan berbahaya narasinya. Apalagi sekarang ada kasus wajah warga adat dipasang di cover tanpa izin, makin keliatan manipulatifnya. Proyeknya sendiri punya potensi bagus buat kurangi impor, tapi eksekusinya kurang melibatkan masyarakat lokal. Kalau lo pro pembangunan tapi juga pro keadilan, mending nonton dengan kacamata super kritis atau skip aja. Jangan langsung kebawa emosi.
Jangan lupa sesajen nya, jangan dikutuk wkwkwk
@emoji:
kemarin sempat nonton, katanya film ini di biayai soros
@emoji:tapi kasihan tau
kemarin sempat nonton, katanya film ini di biayai soros